NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Rencana pengoperasian kawasan Kota Tua Teluk Bayur di Kecamatan Teluk Bayur belum dilakukan dalam waktu dekat.
Bukan semata karena administrasi, tetapi karena pemerintah ingin memastikan konsep dan struktur kawasan benar-benar matang sebelum dibuka untuk publik.
Kepala Bidang Pengembangan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau menjelaskan, perubahan konsep museum menjadi salah satu hasil kajian terbaru yang dilakukan bersama tenaga ahli.
“Sebenarnya sudah kita bangun landmark museum Kota Tua. Tapi setelah kita bawa tenaga ahli, mereka punya pendapat berbeda,” ujarnya. Rabu (4/3).
Dari hasil kajian tersebut, museum Kota Tua dinilai lebih tepat ditempatkan di Gedung KNPI. Sementara bangunan bagian atas yang sebelumnya direncanakan sebagai museum dikembalikan ke fungsi awal sebagai ballroom atau ruang pertemuan.
“Ballroom itu nanti bisa disewakan untuk wedding, rapat, atau pertemuan besar,” jelasnya.
Saat ini, Gedung KNPI yang dipersiapkan menjadi museum Kota Tua disebut hampir setengah jadi. Gedung sisi kanan telah dilengkapi diorama, dan fasilitas seperti toilet telah disesuaikan dengan nuansa kawasan bersejarah.
“Yang sebelah kanan hampir selesai,” katanya.
Untuk gedung sisi kiri, Disbudpar berencana mengundang perusahaan-perusahaan batu bara agar ikut berkontribusi dalam pengembangannya. Namun konsep museum tetap mengusung sejarah Kota Tua secara menyeluruh.
“Permintaan dari teman-teman di sana, jangan disebut museum batu bara, tapi museum Kota Tua. Artinya ada sejarah batu bara, tapi juga sejarah kawasan secara keseluruhan,” ungkapnya.
Selain penataan konsep, Disbudpar juga mendorong model pengelolaan yang inklusif. Awalnya, kafe di bagian belakang direncanakan dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Namun sejumlah komunitas dan organisasi pemuda meminta agar dilibatkan.
“Mereka berpendapat jangan hanya Pokdarwis saja. Kami sudah sarankan Pak Camat untuk merangkul organisasi anak muda dan membentuk pengelola Kota Tua yang melibatkan Karang Taruna dan lainnya,” jelasnya.
Pembentukan kelompok pengelola tersebut kini masih menunggu proses formal. Disbudpar mengaku telah meminta agar segera dibentuk, bahkan akan menyurati secara resmi agar instruksi dapat dijalankan.
“Kami minta secepatnya. Kalau perlu nanti kami surati secara formal supaya bisa berjalan,” ujarnya.
Di sisi lain, faktor keselamatan bangunan juga menjadi perhatian serius. Pada struktur ballroom ditemukan tiang penyangga yang terdampak abrasi sehingga tidak menapak sempurna dan menimbulkan rongga.
“Kalau mau cepat sebenarnya bisa dibuka. Tapi kami khawatir berbahaya. Itu harus diriset lagi dan diturap untuk menguatkan struktur,” tegasnya.
Masalah akses masuk juga masih menjadi kendala. Saat ini akses menuju kawasan masih melewati area sekolah dasar yang belum bersedia direlokasi.
“Sebenarnya banyak persoalan yang tidak diketahui publik. Tapi kami tidak diam. Pembangunan destinasi tidak bisa asal-asalan. Harus komprehensif dan bertahap,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah juga merencanakan pembangunan dermaga wisata di samping ballroom untuk menunjang konektivitas kawasan. Namun rencana tersebut masih menyesuaikan kondisi anggaran daerah yang tengah defisit.
”Dengan berbagai penyesuaian itu, kami memastikan pengembangan Kota Tua Teluk Bayur akan tetap berjalan,” pungkasnya.
Reporter: Akmal | Editor: Sarno





