MBG Ramadan Diantar Menggunakan Skema Rapel, Menu Disesuaikan Jadi Makanan Kering

Selasa, 24 Februari 2026
Teks foto: Sejumlah siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) saat bulan Ramadan di ruang kelas SDN Rapel, didampingi guru yang turut memantau kegiatan. (Istimewa)

NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama Ramadan 1447 Hijriah. Jika sebelumnya diberikan setiap hari, kali ini dengan skema rapelan.

Selain itu, menu yang diberikan kepada siswa juga disesuaikan menjadi makanan kering.

Koordinator Wilayah BGN/SPPG Kabupaten Berau, Rani Oktaviana, menjelaskan, mekanisme penyaluran selama Ramadan mengacu pada petunjuk teknis yang berlaku.

“Pola mekanismenya bisa setiap hari, atau per dua hari, atau per tiga hari rapelan. Sesuai juknis, maksimal tiga paket,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).

Artinya, jika dirapel tiga hari, maka siswa bisa menerima tiga paket sekaligus untuk jatah beberapa hari ke depan.

Skema ini kata Rani, diterapkan agar distribusi tetap efektif selama bulan puasa.

“Tak hanya sistem distribusi yang berubah, komposisi menu pun ikut disesuaikan,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, menu basah diganti dengan makanan kering yang lebih tahan lama. Sumber karbohidrat seperti nasi diganti dengan roti atau umbi-umbian, sementara asupan serat disesuaikan dengan bahan kering lainnya.

“Selama Ramadan kita gunakan menu kering. Tapi sewaktu-waktu bisa juga ada buka puasa bersama di sekolah, nanti diberikan menu basah dalam ompreng,” jelasnya.

Distribusi makanan dilakukan menyesuaikan waktu berbuka. Proses produksi dimulai pagi hingga siang, kemudian dibagikan pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

“Untuk siswa non-muslim, paket yang diberikan tetap sama dengan siswa yang berpuasa, yakni menu kering,” ungkapnya.

Penyaluran MBG sendiri kembali dimulai secara serentak pada 23 Februari 2026, setelah jeda libur pada 16–21 Februari.

“Meski dibagikan secara rapel, kami pastikan kualitas dan keamanan makanan, tetap menjadi prioritas,” tegasnya.

Setiap SPPG disebutnya, telah memiliki tenaga ahli gizi, serta relawan yang telah mendapatkan pelatihan penjamah makanan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Berau.

“Insya Allah terjamin. Kami juga diawasi puskesmas dan Dinas Kesehatan. Untuk bahan dari luar, seperti roti, harus memiliki PIRT dan izin usaha,” pungkasnya.

Reporter: Akmal I Editor: Sarno

Bagikan