NUSANTARAKALTIM, BERAU – DPRD Berau menyoroti besarnya sisa anggaran di sektor kesehatan dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2025. Kondisi itu dinilai bertolak belakang dengan masih adanya persoalan pelayanan kesehatan di lapangan.
Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, mengatakan secara persentase capaian kinerja sektor kesehatan memang tergolong tinggi. Namun, masih terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) bernilai puluhan miliar rupiah yang tidak terserap.
“Secara persentase memang tinggi, tapi sisa anggarannya juga besar,” tegasnya.
Elita menjelaskan, RSUD dr Abdul Rivai memiliki anggaran sebesar Rp210,9 miliar dengan realisasi Rp187,2 miliar atau 88,80 persen. Dari angka tersebut masih tersisa SiLPA sekitar Rp23,6 miliar.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Berau mengelola anggaran Rp421,2 miliar dengan realisasi Rp360,7 miliar atau 85,62 persen, sehingga menyisakan anggaran sekitar Rp60,5 miliar.
“Kalau melihat nominalnya, ini cukup besar dan harus dievaluasi,” ujarnya.
Menurutnya, besarnya sisa anggaran tersebut menjadi ironi di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang tidak stabil.
“Di saat keuangan daerah tidak baik-baik saja, sangat disayangkan anggaran sebesar itu tidak terserap maksimal,” katanya.
Elita juga menyinggung persoalan kelangkaan obat yang sempat terjadi di rumah sakit. Ia menilai kondisi itu seharusnya dapat dicegah apabila perencanaan anggaran dilakukan lebih matang.
“Kalau perencanaannya tepat, kekurangan obat seharusnya tidak perlu terjadi,” ucapnya.
DPRD Berau berharap hasil pembahasan LKPJ tersebut menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah agar pengelolaan anggaran kesehatan ke depan lebih efektif dan tepat sasaran.
“Hasil rekomendasi ini akan menjadi catatan penting untuk perbaikan ke depan,” pungkasnya.
Reporter: Akmal | Editor: Sarno





