NUSANTARAKALTIM, BERAU – Kelangkaan BBM di sejumlah SPBU Kabupaten Berau ternyata tidak sepenuhnya disebabkan kekurangan stok. Pemerintah daerah menyebut pasokan secara umum masih aman, namun distribusi dan tingginya pembelian membuat BBM lebih cepat habis di lapangan.
Kepala Bagian Ekonomi Setda Berau, Slamet Riyadi, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan kondisi pasokan BBM di Berau.
“Secara umum stok BBM aman. Yang terjadi di lapangan lebih kepada tingginya permintaan dan panic buying,” tegas Slamet.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut diperparah keterlambatan kapal tanker yang membawa pasokan. Kapal disebut mengalami kendala saat akan memasuki kawasan Muara Pantai, sehingga pengiriman dari Jobber Maluang menuju sejumlah SPBU ikut terdampak.
“Ketika kapal tidak bisa masuk, jadwal pengiriman ikut terganggu. Dampaknya terasa sampai ke SPBU,” ujarnya.
Namun, Slamet menilai persoalan tidak berhenti pada distribusi. Pola pembelian masyarakat juga menjadi perhatian karena BBM di sejumlah SPBU dapat habis dalam waktu relatif cepat.
Sebagai gambaran, penyaluran sebanyak 32 kiloliter atau 32 ribu liter, dengan asumsi setiap kendaraan mengisi 40 liter, secara hitungan dapat melayani sekitar 800 kendaraan.
“Tapi di lapangan stok bisa habis jauh lebih cepat. Ini yang perlu kita lihat bersama,” katanya.
Bagian Ekonomi juga menemukan adanya kendaraan yang kembali mengisi BBM dalam waktu singkat meski sistem verifikasi barcode telah diterapkan.
“Kami temukan di SPBU Bujangga, belum dua hari sudah mengisi lagi. Pola seperti ini perlu diawasi,” jelas Slamet.
Menurutnya, sistem barcode seharusnya membantu mengontrol penyaluran agar BBM tidak dibeli secara berlebihan. Karena itu, pengawasan terhadap transaksi dan pola pengisian perlu diperkuat.
Slamet menegaskan, pemerintah tidak ingin masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM justru kesulitan mendapatkannya akibat pembelian berulang maupun kepanikan membeli dalam jumlah berlebihan.
“BBM harus sampai kepada masyarakat yang membutuhkan. Jangan karena panik, stok justru cepat habis,” tegasnya.
Ia meminta pemerintah daerah, Pertamina, pengelola SPBU, dan aparat terkait memperkuat pengawasan serta koordinasi. Dengan begitu, gangguan distribusi dapat segera diantisipasi dan kelangkaan BBM tidak kembali berulang.
“Yang kita butuhkan sekarang pengawasan bersama dan distribusi yang tepat. Jangan sampai masyarakat terus menjadi pihak yang dirugikan,” pungkasnya.(*)
Reporter: Akmal I Editor: Sarno





