Tanpa Bergantung APBD, Bekudung Betiung Tetap Megah

Sabtu, 27 Juni 2026

NUSANTARAKALTIM, BERAU – Festival budaya Bekudung Betiung di Kampung Tumbit Dayak kembali membuktikan satu hal penting: pelestarian budaya tidak selalu bergantung pada anggaran pemerintah.

Dengan semangat gotong royong dan dukungan kolektif masyarakat, event tahunan ini mampu berjalan mandiri dengan dana yang terkumpul menembus ratusan juta rupiah.

Meski telah masuk kalender event pariwisata Kabupaten Berau, pelaksanaan Bekudung Betiung tahun ini sebagian besar ditopang oleh kekuatan internal kampung, mulai dari masyarakat, sponsor perusahaan, hingga donatur perorangan.

Ketua Panitia Bekudung Betiung, Wahyu Ramdani, mengungkapkan total dana yang berhasil dihimpun mencapai lebih dari Rp426 juta.

“Total uang masuk sebesar Rp426.828.000. Ini berasal dari sponsor perusahaan, donatur perorangan, masyarakat kampung, hingga berbagai bentuk dukungan lainnya,” ujarnya dalam laporan panitia, Kamis (25/6/2026).

Kontribusi terbesar datang dari perusahaan-perusahaan di wilayah lingkar Kampung Tumbit Dayak yang menyumbang Rp314,5 juta. Dukungan ini menjadi fondasi utama terselenggaranya festival budaya yang kini semakin dikenal sebagai salah satu magnet wisata Berau.

Namun kekuatan utama festival ini justru terlihat dari tingginya partisipasi masyarakat lokal. Dukungan warga dari RT 1 hingga RT 8 mencapai Rp13,2 juta, sementara karyawan domisili dan rekan-rekan Tumbit Dayak menyumbang Rp48,5 juta.

Tak hanya dalam bentuk uang, kontribusi juga datang melalui bantuan kebutuhan pokok. Masyarakat secara kolektif menyumbang beras hingga 161,9 kilogram untuk mendukung kebutuhan selama festival berlangsung.

Selain itu, dana kampung yang baru masuk sebesar Rp20 juta serta dukungan dari lembaga Kampung Tumbit Dayak sebesar Rp11 juta turut memperkuat pelaksanaan kegiatan budaya tersebut.

Besarnya partisipasi masyarakat ini menunjukkan Bekudung Betiung bukan sekadar festival seremonial, melainkan agenda budaya yang benar-benar hidup dan dijaga bersama oleh masyarakatnya sendiri.

Dengan anggaran yang terkumpul, pelaksanaan event selama sepekan diharapkan berjalan maksimal. Panitia bahkan menyiapkan hadiah lomba hingga Rp39 juta untuk berbagai rangkaian kegiatan yang digelar.

Wahyu menegaskan, keberhasilan pengumpulan dana ini menjadi bukti nyata kuatnya solidaritas masyarakat dalam menjaga adat dan budaya leluhur.

“Dukungan ini adalah bukti semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap pelestarian adat budaya serta pembangunan Kampung Tumbit Dayak,” tegasnya.

Bekudung Betiung kini tidak hanya dikenal sebagai agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara masyarakat, swasta, dan pemerintah kampung mampu menjaga warisan budaya tetap hidup sekaligus menggerakkan sektor pariwisata lokal.(*)

Reporter: Akmal I Editor: Sarno

Bagikan