NUSANTARAKALTIM, MARATUA – Di tengah geliat pembangunan daerah yang masif, sejumlah sekolah di Kecamatan Maratua, justru masih bergulat dengan persoalan paling mendasar: Kekurangan ruang kelas, dan belum tersedianya fasilitas sanitasi yang layak.
Kondisi ini sempat menjadi topik hangat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan yang digelar di Kantor Bupati Berau beberapa hari lalu.
Camat Maratua, Ariyanto, secara tegas menyampaikan bahwa kondisi sekolah dari jenjang PAUD hingga SD di wilayahnya masih jauh dari kata ideal.
Pulau yang menjadi salah satu destinasi unggulan Kabupaten Berau itu ternyata menyimpan potret lain di balik pesona wisatanya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, tak menampik persoalan tersebut. Ia mengakui, keterbatasan ruang kelas menjadi masalah paling mendesak, khususnya pada pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD).
Salah satu contoh, adalah kondisi TK Negeri Maratua. Dengan jumlah murid sekitar 50 anak, sekolah tersebut hanya ditopang dua ruang kelas dan satu ruang guru. Kondisi ini jauh dari standar ideal pembelajaran anak usia dini.
“Secara ideal, satu kelas TK maksimal diisi 15 anak. Artinya, dengan jumlah siswa yang ada, dibutuhkan setidaknya empat ruang kelas. Tapi kondisi bangunan dan lahannya memang tidak memungkinkan,” ungkap Mardiatul.
Masalah tak berhenti pada bangunan sempit. Lokasi sekolah yang berdempetan dengan permukiman warga, membuat opsi pengembangan hampir tertutup.
Relokasi pun kata mantan Camat Gunung Tabur itu, menjadi satu-satunya jalan keluar yang realistis.
“Kami siap dari sisi perencanaan dan koordinasi dengan instansi pertanahan. Namun, dukungan pemerintah kampung dan kecamatan sangat dibutuhkan untuk menyiapkan lahan yang layak,” paparnya.
Selain itu, persoalan serupa juga terjadi di SDN 001 Bohe Silian. Sejumlah fasilitas dasar seperti pagar pengaman dan WC sekolah belum terealisasi, meski sebelumnya telah masuk dalam dokumen perencanaan.
“Anggaran terbatas, ini yang membuat beberapa kebutuhan penunjang belum bisa dipenuhi,” jelas Mardiatul.
Namun, dia juga menyampaikan, pembangunan ruang kelas baru di beberapa kampung, termasuk Teluk Harapan, masih terus berjalan. Dia menargetkan, proyek it rampung sebelum tahun ajaran baru.
“Tetapi, fasilitas sanitasi dan utilitas pendukung ikut terdampak kebijakan efisiensi anggaran,” terangnya.
Kemudian, untuk SMPN 1 Maratua, pembangunan ruang kelas dan pematangan lahan masih berlangsung. Penataan akses jalan hingga rencana semenisasi halaman sekolah, menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas belajar tidak lagi terganggu kondisi lingkungan.
“Ruang kelas tetap menjadi prioritas utama. Tapi tanpa WC layak, pagar, dan halaman yang aman, kualitas belajar juga ikut terdampak,” pungkasnya. (/)
Reporter: Akmal I Editor: Sarno





