NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Revitalisasi Ballroom Museum Batubara di Kecamatan Teluk Bayur sejatinya telah rampung pada 2024 lalu.
Namun hingga awal 2026, bangunan yang digadang-gadang menjadi pengungkit sektor pariwisata itu belum juga dimanfaatkan secara optimal. Pangkal soalnya bukan pada fisik bangunan, melainkan persoalan lama dalam tubuh pengelola.
Kepala Bidang Pengembangan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah, mengatakan bahwa penataan struktur organisasi dan kekompakan pengelola menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Menurut Samsiah, belum adanya tindak lanjut konkret dari Disbudpar bukan tanpa alasan. Persoalan terkait pengelola pariwisata di Teluk Bayur disebutnya cukup kompleks dan telah berlangsung bertahun-tahun.
“Banyak permasalahan yang harus dibenahi terlebih dahulu, kami hanya tinggal menunggu itu selesai dulu,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Ballroom yang sejatinya akan difungsikan sebagai Museum Batubara itu sebelumnya diharapkan menjadi ruang multifungsi, mulai dari kegiatan seni, pertemuan, hingga agenda promosi wisata. Namun, absennya struktur pengelola yang solid membuat pemanfaatannya berjalan di tempat.
Tak hanya persoalan organisasi, kendala teknis juga membayangi. Akses menuju Museum Batubara masih harus melewati area sekolah. Yang artinya, setiap kunjungan wisatawan atau penyelenggaraan kegiatan harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihak sekolah setempat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mengoptimalkan fungsi ballroom sekaligus pengembangan kawasan wisata di Teluk Bayur. Situasi ini, alih-alih mempercepat aktivasi ruang publik, justru membuat pengelolaan berjalan serba terbatas.
Samsiah meminta camat setempat mengambil peran lebih aktif dengan menginisiasi pertemuan bersama organisasi kepemudaan di Teluk Bayur. Ia menilai, penyelesaian konflik internal tak bisa hanya bertumpu pada dinas, melainkan perlu melibatkan elemen masyarakat setempat.
“Setelah persoalan pengelola wisata selesai, kami akan mencoba membantu untuk melibatkan pihak ketiga untuk pengembangan wisata, tentunya sebagai investor,” pungkasnya.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





