Tugas ‘Seabrek’, SDM BPBD Masih Kurang dan Belum Tersertifikasi

Jumat, 9 Januari 2026

NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau mencatat ratusan laporan kedaruratan sepanjang 2025 dengan jenis kejadian yang beragam, tidak hanya kebakaran dan bencana alam, tetapi juga kasus-kasus nonbencana yang melibatkan warga dan hewan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, mengatakan laporan yang masuk mencakup 49 kejadian kebakaran permukiman serta puluhan evakuasi hewan liar. Evakuasi tersebut meliputi 78 kasus ular, 89 tawon, 11 biawak, hingga kemunculan buaya di wilayah permukiman. Selain itu, petugas juga menangani penyelamatan trenggiling, monyet liar, dan anjing yang berkeliaran.

BPBD Berau juga menerima laporan nonbencana lainnya, seperti pelepasan cincin yang tersangkut di jari warga, evakuasi pohon tumbang, penyemprotan jalan, mobil terkunci, kunci motor yang jatuh ke parit, ponsel hanyut ke sungai, hingga satu kasus evakuasi jenazah.

Bahkan, warga yang terjebak di dalam toilet akibat pintu rusak turut menjadi bagian dari laporan yang ditangani.Nofian menyatakan BPBD Berau berupaya merespons setiap laporan yang masuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Selama masyarakat membutuhkan bantuan, kami berupaya hadir apa pun bentuk kejadiannya,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).

Di balik tingginya jumlah penanganan kasus tersebut, BPBD Berau masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, terutama terkait kompetensi dan sertifikasi personel. Menurut Nofian, sebagian besar personel belum mendapatkan pelatihan formal yang memadai, meski tugas di lapangan menuntut kemampuan teknis khusus.

Ia menjelaskan sertifikasi pemadam kebakaran terbagi dalam tiga jenjang, yakni tingkat dasar untuk penanganan api, tingkat lanjutan untuk penanganan bangunan, serta tingkat yang mencakup kemampuan pertolongan pertama. Namun hingga kini, hanya sebagian kecil personel yang mengikuti pelatihan tersebut.

Dari total 83 personel damkar dan BPBD Berau, sekitar 30 orang tercatat memiliki sertifikasi Pemadam 1. Pada 2024, hanya 10 personel yang berhasil mengikuti pelatihan. Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal yang direkomendasikan Kementerian PAN-RB, yakni sebanyak 458 petugas kebencanaan dan pemadam kebakaran untuk wilayah Berau.

Kondisi ini diperberat oleh luas wilayah dan karakter geografis Berau yang memiliki potensi risiko bencana beragam. Dalam satu unit mobil pemadam, idealnya terdapat enam personel, namun di lapangan sering kali satu orang harus merangkap beberapa tugas.

“Peralatan sudah tersedia meski masih standar. Namun tanpa sumber daya manusia yang terlatih dan tersertifikasi, layanan kebencanaan sulit berjalan maksimal,” kata nofian.

Selama ini, BPBD Berau mengandalkan latihan mandiri untuk meningkatkan kemampuan personel. Namun upaya tersebut dinilai belum mampu menggantikan pelatihan formal. Hingga kini, personel BPBD Berau juga belum pernah mengikuti sertifikasi penyelamatan (rescue), baik untuk ruang terbatas, ketinggian, maupun air.

Nofian menyebut keterbatasan tersebut turut dipengaruhi belum adanya lembaga pelatihan berstandar di daerah. Untuk mengikuti pelatihan resmi, BPBD harus mengirim personel ke luar daerah, seperti ke Jakarta atau lembaga nasional, yang membutuhkan dukungan anggaran besar.Ia berharap pemerintah daerah dapat menjadikan peningkatan kapasitas personel sebagai prioritas.

“Personel harus dipersiapkan sebelum bertugas. Prinsip kami siaga, terlatih, dan operasi harus berjalan seimbang,” tutupnya.

Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno

Bagikan