Tes HIV Menjangkau Pelosok, Pengobatan Masih Terbatas di Berau

Selasa, 17 Februari 2026
Puskesmas Tanjung Redeb.

NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Akses pemeriksaan HIV di Kabupaten Berau kini tidak lagi menjadi persoalan. Dinas Kesehatan setempat memastikan layanan tes HIV sudah menjangkau hingga kampung-kampung terpencil, wilayah pedalaman, serta pesisir. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan layanan pengobatan.

Dari total 21 puskesmas yang ada, baru 9 puskesmas yang mampu memberikan terapi pengobatan HIV, ditambah satu rumah sakit rujukan. Artinya, sebagian besar pasien masih harus dirujuk ke fasilitas tertentu untuk mendapatkan pengobatan lanjutan.

Kepala Dinas Kesehatan Berau melalui Wakil Supervisor sekaligus Pengelola Program P2-HIV, Andy Nuriyanto, menyebut keterbatasan tersebut berkaitan erat dengan kesiapan sumber daya manusia di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Pengobatan HIV tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan tenaga kesehatan yang sudah mendapat pelatihan khusus, dan itu belum dimiliki semua puskesmas,” jelas Andy, Senin (16/2/2026).

Meski begitu, dari sisi deteksi dini, pemerintah daerah mengklaim tidak ada lagi wilayah yang tertinggal. Pemeriksaan HIV telah diwajibkan bagi ibu hamil dan terus didorong bagi calon pengantin melalui skema skrining kesehatan.

“Mulai dari wilayah hulu, pedalaman, sampai pesisir seperti Maratua dan Biduk-Biduk, semua masyarakat sudah bisa melakukan tes HIV,” ujarnya.

Pada tahun ini, Dinkes Berau berencana menambah satu puskesmas lagi sebagai fasilitas layanan pengobatan HIV. Langkah tersebut diharapkan dapat memperpendek jarak layanan dan mempercepat pasien mengakses terapi.

Selain keterbatasan fasilitas, tantangan juga datang dari faktor psikologis pasien. Tidak sedikit penderita yang belum siap menerima diagnosis HIV sehingga menunda pengobatan. Kondisi ini semakin kompleks apabila pasien terdiagnosis HIV bersamaan dengan penyakit lain, seperti tuberkulosis (TBC).

“Jika pasien HIV juga mengidap TBC, maka pengobatan TBC harus diprioritaskan terlebih dahulu. Ini sering menyebabkan terapi HIV tertunda,” terang Andy.

Saat ini, fasilitas layanan pengobatan HIV telah tersedia di beberapa titik, mulai dari wilayah perkotaan, pedalaman, hingga pesisir, seperti Tanjung Batu, Kelay, Talisayan, serta RSUD Abdul Rivai sebagai rumah sakit rujukan.

“Saat ini fasilitas layanan HIV tidak hanya ada dikota, sekarang di kampung-kampung telah tersedia,” jelasnya.

Andi mengatakan pihaknya menargetkan ke depan semakin banyak puskesmas yang mampu menangani terapi HIV secara mandiri.

“Kami berharap kedepanya penularan HIVv ini dapat ditekan secara signifikan,” pungkasnya.

Reporter: Akmal I Editor: Sarno

Bagikan