NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Kemunculan paus orca di perairan Pulau Maratua, Kecamatan Maratua, menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Kabupaten Berau.
Fenomena langka ini, dinilai sebagai momentum promosi yang sangat baik untuk memperkenalkan destinasi wisata bahari Berau ke tingkat nasional hingga internasional.
Kepala Bidang Pengembangan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Samsiah, mengatakan bahwa kemunculan orca tersebut memberikan efek promosi yang signifikan, terutama karena bertepatan dengan tingginya kunjungan wisatawan.
“Ini menjadi atraksi tambahan yang sangat menarik. Maratua semakin dikenal orang karena adanya paus orca ini,” ucapnya.
“Banyak wisatawan luar yang ingin datang setelah melihat kabar tersebut. Ternyata sehebat itu Maratua sampai orca pun ada di sana,” tambahnya, Senin (23/2/2026).
Menurut Samsiah, selama dirinya menjabat di bidang pengembangan wisata, kemunculan orca baru pertama kali terjadi. Namun berdasarkan informasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), perairan Maratua memang termasuk dalam lintasan migrasi orca.
“Mungkin sebelumnya sudah pernah melintas, hanya saja belum terpantau atau belum bertemu dengan wisatawan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kemunculan orca semakin viral karena beberapa wisatawan yang berhasil merekam momen tersebut merupakan influencer media sosial. Dampaknya, promosi wisata Maratua menyebar luas secara organik.
“Peminat orca ini luar biasa, terutama para diver,” lanjutnya.
Ia menyebut, jumlah orca yang terpantau bervariasi, mulai dari tiga hingga lima ekor. Ia menjelaskan bahwa orca biasanya berenang berkelompok.
“Terakhir yang terlihat paling banyak sekitar empat atau lima ekor. Mereka berenang bersama, kemungkinan terdiri dari jantan, betina, dan anak-anaknya,” tuturnya.
Meski dikenal sebagai predator laut, Samsiah menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada catatan orca liar menyerang manusia di habitat aslinya.
“Sepanjang yang saya cari informasinya, orca di laut lepas belum pernah menyerang manusia. Mereka hanya memangsa target makanannya. Berbeda mungkin jika di wahana pertunjukan, itu pun biasanya karena kesalahan penanganan,” jelasnya.
Terkait imbauan keselamatan, pihaknya belum mengeluarkan aturan khusus mengenai interaksi dengan orca. Namun ia memastikan bahwa para pemandu selam di Maratua umumnya telah tersertifikasi dan memahami standar keamanan.
“Rata-rata guide selam di Maratua sudah bersertifikat, sehingga tahu batasan jarak aman dan cara penanganannya,” bebernya.
Ia berharap kemunculan orca ini dapat semakin memperkuat citra Maratua sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia, meskipun keberadaan satwa tersebut tidak dapat dipastikan setiap saat.
“Kita tidak bisa berharap terlalu banyak karena ini satwa liar yang bermigrasi. Tapi mudah-mudahan kehadirannya bisa semakin memperkenalkan Maratua dan Berau ke dunia,” pungkasnya.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





