“Menambal Luka” Sampah di Pulau Wisata

Jumat, 13 Februari 2026
Bupati Berau, Sri Juniarsih yang turut menyaksikan proses operasional RUPIAH di Pulau Derawan.

NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Sejak September 2025, Pemerintah Kabupaten Berau bersama WWF-Indonesia membangun Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang diberi nama Rumah Pilah Sampah (RUPIAH). Fasilitas tersebut kini telah rampung dan resmi dioperasikan di Pulau Derawan.

Data mencatat, pada puncak musim wisata, timbulan sampah non-rumah tangga di Derawan bisa mencapai 46.105,1 kilogram per hari, termasuk dari hotel dan penginapan. Angka itu menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan para pegiat lingkungan.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan TPS3R.

“Ini bukan hanya tentang membangun fasilitas, tetapi membangun kesadaran bersama untuk menjaga Derawan tetap bersih dan lestari,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran RUPIAH menjadi langkah strategis dalam mengatasi persoalan sampah yang selama ini mengganggu kebersihan pulau-pulau kecil, terutama saat lonjakan kunjungan wisatawan.

“Kita ingin wisatawan datang dan melihat Derawan tetap indah, tanpa terganggu persoalan sampah,” tambahnya.

Ia juga menilai pembangunan TPS3R selaras dengan program Laut Sehat Bebas Sampah (SEBASAH) yang diinisiasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia untuk mengurangi 70 persen sampah plastik yang masuk ke laut.

Harapannya, fasilitas ini mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan demi menjaga Derawan sebagai destinasi wisata unggulan.

Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika, memastikan pembangunan TPS3R telah selesai dan siap mendukung kebersihan pulau.

“Kami siap mendukung penuh operasionalnya. Partisipasi warga akan menjadi kunci keberhasilan pengelolaan RUPIAH ke depan,” tegasnya.

Ia menyebut keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam pengelolaan fasilitas tersebut.
Secara teknis, TPS3R RUPIAH dilengkapi kantor tim operasional, gudang penyimpanan alat, serta ruang pengelolaan sampah. Peralatan pendukung telah tersedia sehingga sistem bisa langsung berjalan.

Fokus pengelolaan diarahkan pada sampah anorganik dari hotel, penginapan, dan rumah tangga. Sampah dipilah berdasarkan jenis, mulai dari botol plastik, kaleng, hingga kemasan makanan, untuk kemudian dikirim dan dijual ke pasar di luar pulau.

Ketua Tim Pengelola TPS3R, Heryuni, mengatakan keberadaan fasilitas ini menjadi solusi atas persoalan sampah yang kerap muncul saat kunjungan wisata meningkat.

“Selama ini sampah menjadi tantangan besar ketika wisatawan membludak. Dengan adanya TPS3R, kami lebih siap mengelola dan mengurangi dampaknya,” katanya.

Ia menyebut tim pengelola yang berjumlah 10 orang telah mendapatkan pelatihan dasar, mulai dari teknik pemilahan hingga keselamatan kerja.

Selain itu, terdapat 10 local champion dari tiap RT yang bertugas mengedukasi warga agar memilah sampah organik dan anorganik sebelum diangkut petugas.

“Kami ingin membangun kebiasaan baru dari rumah tangga, agar pemilahan tidak lagi dianggap beban, tetapi kebutuhan,” ujar Heryuni.

Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di pulau kecil memiliki tantangan tersendiri.

“Keterbatasan lahan dan biaya pengiriman antarpulau menjadi tantangan nyata. Karena itu, kolaborasi dan komitmen bersama sangat diperlukan,” jelasnya.

TPS3R RUPIAH merupakan hasil kolaborasi WWF-Indonesia bersama WWF-Netherlands serta mitra korporasi seperti Epson South East Asia dan Hilton Global Foundation. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya.

Kehadiran TPS3R RUPIAH menandai babak baru pengelolaan sampah di Derawan. Lebih dari sekadar fasilitas fisik, ia menjadi simbol upaya kolektif, bahwa menjaga kebersihan pulau bukan hanya tugas petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama masyarakat dan pelaku wisata demi kelestarian laut dan masa depan pariwisata.

Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno

Bagikan