Layanan Udara Sudah Maksimal, Kepala Bandara Minta “Mata Rantai Laut” Tidak Jadi Penghambat Wisata Berau‎‎

Sabtu, 29 November 2025

‎Teks foto : Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Kalimarau, Patah Atabri. ‎‎

NUSANTARAKALTIM, BERAU — Pembangunan pariwisata Berau kembali disorot, bukan pada kualitas destinasi, tetapi pada persoalan mendasar, transportasi laut yang belum tertata.‎‎

Kepala BLU UPBU Kelas I Kalimarau, Patah Atabri, menilai sektor udara dan darat sudah bekerja optimal namun perjalanan wisatawan justru tersendat ketika berpindah ke moda laut menuju Maratua dan Derawan.‎‎

Menurutnya, Bandara Kalimarau telah mampu mengantisipasi lonjakan wisatawan dengan pelayanan penerbangan yang stabil, disambung transportasi darat yang tersedia melalui armada taksi. Kendala baru muncul saat penumpang tiba di pelabuhan.‎‎

“Interkoneksi dari udara dan darat sudah berjalan. Masalahnya muncul saat masuk ke laut, speedboat di pelabuhan belum punya tata kelola dan jadwal tetap,” ujar.‎‎

Ia menilai ketiadaan jadwal keberangkatan speedboat menjadi penyebab wisatawan mengalami ketidakpastian waktu perjalanan. ‎‎

Motoris masih menjalankan operasional secara mandiri tanpa regulasi jadwal, hingga membuat pelabuhan terlihat semrawut dan tidak menggambarkan standar destinasi wisata internasional. ‎‎Selain jadwal, Patah juga menyinggung soal legalitas operasional dan pengawasan lapangan.‎‎

“Harus dicek dulu apakah semua kapal sudah punya izin lengkap, termasuk Surat Izin Berlayar. Dan bagaimana pengawasan dari KUPP apakah petugas benar-benar standby?” tegasnya.‎‎

Ia menilai aspek keselamatan, kepastian keberangkatan, dan pengelolaan dermaga tidak boleh dianggap persoalan teknis semata, melainkan menyangkut reputasi pariwisata Kabupaten Berau.

‎‎Patah memastikan pihaknya sudah masuk dalam komunikasi formal dengan Dinas Perhubungan Berau untuk membahas pembenahan lintas moda dari udara–darat–laut secara terpadu.

‎‎”Dari udara sudah bagus, sampai darat juga aman. Sekarang tinggal sambungan laut yang harus dikelola dengan standar yang sama,” jelasnya.‎‎

Ia berharap penataan ini tidak ditunda mengingat Maratua dan Derawan adalah ikon nasional yang membawa nama Berau hingga kelas internasional.‎‎

“Kalau kita ingin wisata berkembang, maka interkoneksi moda harus rapi. Jangan sampai perjalanan bagus di awal, rusak saat memasuki segmen terakhir,” tutupnya.

‎‎Reporter : Akmal

‎Editor : Sarno

Bagikan