SAMARINDA – Program seragam sekolah gratis yang digulirkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk meringankan beban masyarakat menuai sorotan. Klaim pemerintah bahwa program telah berjalan sesuai rencana ternyata berbeda dengan realita yang dihadapi sejumlah orang tua siswa di lapangan.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, pada Selasa (22/7/2025), menegaskan bahwa program tersebut telah menyediakan satu setel seragam putih abu-abu gratis bagi 65.004 siswa baru jenjang SMA, SMK, dan SLB di seluruh Kaltim, baik negeri maupun swasta.
“Seragam gratis sudah dari awal kita berikan bahwa seragam yang diberikan kepada SMA, SMK, negeri dan swasta itu adalah putih abu-abu,” kata Wagub Seno.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah telah mengeluarkan surat edaran yang melarang penjualan paksa seragam di sekolah dan memberikan kelonggaran bagi siswa untuk memakai seragam bekas yang masih layak.
“Jadi bisa menggunakan seragam yang lama milik kakaknya juga boleh, kita tidak mengharuskan membeli balik,” katanya.
Namun, kondisi berbeda ternyata dirasakan di ibu kota provinsi. Ismail, salah satu orang tua siswa baru di SMA 2 Samarinda, mengaku tidak merasakan adanya program seragam gratis tersebut. Ia mengungkapkan, kebutuhan akan berbagai jenis seragam tetap menjadi beban biaya yang signifikan bagi keluarganya.
Meskipun pihak sekolah tidak mewajibkan pembelian di satu tempat, Ismail mengaku tetap harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk memenuhi semua kebutuhan seragam anaknya.
“Anak saya di SMA 2 Samarinda baru masuk tahun ini, untuk seragam sekolah tidak ada yang gratis, kami tetap mengeluarkan biaya seragam, total lebih dari Rp 2 juta per anak,” katanya.





