NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Berau menegaskan peran Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebagai mitra strategis dalam penanganan persoalan sosial yang membutuhkan respons cepat. Kolaborasi ini dinilai penting, terutama ketika keterbatasan anggaran pemerintah membuat Dinsos tidak bisa bergerak secara leluasa.
Kepala Dinsos Berau, Iswahyudi, mengatakan bahwa hubungan kerja antara Dinsos dan Baznas bersifat saling melengkapi. Menurutnya, kedua lembaga memiliki karakter dan mekanisme kerja yang berbeda, tetapi justru menjadi kekuatan ketika disinergikan.
“Baznas itu mitra utama kami, dan kami juga mitra utama Baznas. Jadi tidak bisa dipisahkan,” kata Iswahyudi.
Ia menjelaskan, Dinsos bekerja berdasarkan perencanaan program dan penganggaran pemerintah, sementara Baznas memiliki fleksibilitas dalam pemanfaatan dana sosial keagamaan. Kondisi tersebut membuat Baznas lebih cepat bergerak dalam menangani situasi darurat.
“Kalau kami itu lebih ke program yang terencana. Sementara Baznas bisa langsung membantu ketika dibutuhkan dana tunai,” ujarnya.
Dalam praktiknya, ketika Dinsos menghadapi persoalan sosial yang tidak bisa segera ditangani akibat keterbatasan anggaran atau mekanisme, koordinasi dengan Baznas menjadi langkah yang ditempuh. Salah satu kasus yang kerap terjadi adalah penanganan orang terlantar tanpa keluarga.
“Kasus orang terlantar itu sering butuh bantuan cepat, misalnya untuk pemulangan atau biaya hidup sementara. Kalau butuh uang, lebih mudah lewat Baznas,” kata Iswahyudi.
Ia menambahkan, penanganan orang terlantar kerap membutuhkan tindakan segera, seperti penyediaan tempat tinggal sementara atau pemulangan ke kampung halaman. Dalam kondisi seperti itu, Dinsos dan Baznas biasanya langsung berkoordinasi.Selain penanganan kasus darurat, kolaborasi juga dilakukan dalam berbagai kegiatan sosial lainnya.
Iswahyudi menyebut, pemulangan orang terlantar, penyewaan kontrakan sementara, hingga kegiatan sunatan massal dan nikah massal kerap dilakukan secara bersama-sama.
“Sunatan massal itu pasti kolaborasi. Sebelumnya juga ada nikah massal, dan Baznas ikut berperan, misalnya dengan memberikan souvenir seperti sarung atau kebutuhan lain,” jelasnya.
Meski tidak memiliki program khusus yang secara permanen melekat dengan Baznas, Iswahyudi mengakui bahwa setiap kali muncul persoalan sosial mendesak, koordinasi dengan Baznas hampir selalu dilakukan.
Ia mencontohkan, ketika ada warga meninggal dunia sementara anggaran Dinsos untuk bantuan pemakaman sudah habis, pihaknya akan menghubungi Baznas agar proses pemakaman tetap dapat terlaksana.
Pola kerja sama tersebut juga berlaku dalam penanganan laporan masyarakat. Jika laporan yang masuk ke Dinsos dinilai lebih tepat ditangani melalui skema Baznas, maka akan diteruskan. Sebaliknya, warga yang datang langsung ke Baznas tetap memerlukan rekomendasi atau verifikasi dari Dinsos.
“Kalau ada orang datang ke Baznas minta bantuan, biasanya tetap perlu rekomendasi dari Dinsos untuk memastikan bahwa yang bersangkutan memang masuk kategori masyarakat miskin,” lanjutnya.
Terkait upaya penekanan angka kemiskinan, Iswahyudi menegaskan bahwa bantuan tunai bukan satu-satunya solusi. Ia menilai pemberdayaan masyarakat justru menjadi kunci agar warga dapat mandiri secara ekonomi.
“Kalau masih muda dan produktif, sebaiknya dibantu dengan pemberdayaan, bukan BLT. BLT itu kurang tepat kalau untuk usia produktif,” ucapnya.
Ia menyebut, urusan pemberdayaan lebih banyak ditangani oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag), salah satunya melalui dukungan sarana usaha. Contohnya, bantuan kendaraan bermotor dari Baznas untuk menunjang aktivitas berdagang.
“Orang seperti itu kalau tidak dijaga bisa jatuh miskin. Tapi kalau masih bisa jualan, apalagi masih muda, itu masuknya pemberdayaan,” tutur Iswahyudi.
Sementara itu, menurut dia, anak-anak lebih tepat dibantu melalui sektor pendidikan. Adapun warga lanjut usia yang sudah tidak produktif lebih sesuai menerima bantuan langsung tunai atau bantuan sosial.Iswahyudi berharap sinergi antara Dinsos dan Baznas di Berau dapat terus terjaga. Dengan pembagian peran yang jelas dan koordinasi yang baik, ia optimistis penanganan persoalan sosial dan pengentasan kemiskinan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





