NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Harga ikan di Kabupaten Berau, bergerak mengikuti ritme musim penangkapan. Ketergantungan pada kondisi alam itu membuat komoditas perikanan kerap menjadi faktor pendorong inflasi daerah, terutama ketika pasokan ikan laut menipis di pasar.
Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, menyebut fluktuasi harga ikan hampir selalu muncul dalam catatan inflasi daerah. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada tingginya harga di tingkat nelayan, melainkan pada ketidakpastian produksi yang sangat bergantung musim.
“Ikan memang sering muncul sebagai penyumbang inflasi. Produksinya tidak stabil karena penangkapan sangat bergantung musim,” kata Majid, Senin (9/2/2026).
Namun demikian, Majid menegaskan bahwa secara umum ketersediaan ikan di Berau masih tergolong aman. Bahkan, pada periode tertentu hasil tangkapan nelayan justru melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat setempat.
Ia menjelaskan, kebutuhan konsumsi ikan masyarakat Berau rata-rata hanya berkisar 4–5 ton per hari. Sementara itu, pada musim tangkap yang baik, produksi nelayan bisa mencapai 7–10 ton per hari.
“Kalau hasil tangkapan lagi tinggi, jelas tidak mungkin habis dikonsumsi di Berau. Karena ikan cepat rusak, kelebihan produksi itu harus segera dikirim ke luar daerah,” ujarnya.
Distribusi ikan ke wilayah lain seperti Kutai Timur, Bontang, dan sejumlah daerah di sekitarnya menjadi pilihan agar hasil tangkapan nelayan tidak terbuang. Di sisi lain, pengiriman tersebut berimplikasi pada pasokan di pasar lokal, terutama ketika arus distribusi lebih banyak mengalir keluar daerah.
Salah satu komoditas yang kerap memicu gejolak harga adalah ikan layang. Majid menilai lonjakan harga lebih banyak terjadi di tingkat konsumen akibat panjangnya rantai distribusi, bukan karena mahalnya harga di tingkat nelayan.
“Harga di nelayan sebenarnya biasa saja. Tapi begitu sampai ke konsumen, harganya bisa naik karena distribusinya panjang,” katanya.
Saat ini, harga ikan layang di pasaran berada di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 55 ribu per kilogram. Jika kualitas kesegaran menurun, harga bisa turun hingga Rp 30 ribu per kilogram. Sebaliknya, ketika pasokan kosong, harga berpotensi melonjak dan memberi tekanan pada inflasi daerah.
Untuk meredam lonjakan harga saat musim paceklik ikan laut, Pemerintah Kabupaten Berau menyiapkan strategi pengganti pasokan melalui penguatan sektor budidaya ikan air tawar. Sejumlah jenis ikan seperti nila, emas, patin, dan lele disiapkan sebagai alternatif suplai bagi pasar lokal.
Menurut Majid, pengembangan budidaya tidak harus bergantung pada kolam permanen. Berbagai metode sederhana juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Budidaya itu fleksibel. Tidak selalu harus pakai kolam, bisa juga menggunakan gentong atau terpal,” ucapnya.
Selain faktor musim, stabilitas harga ikan di Berau juga dipengaruhi oleh pilihan nelayan dalam menjual hasil tangkapannya. Majid mengungkapkan, banyak nelayan lebih memilih mengirim ikan ke luar daerah seperti Samarinda, Bulungan, Malinau, hingga Bontang karena sistem pembayaran yang dinilai lebih menguntungkan.
“Di luar daerah pembayarannya langsung cash. Kalau di sini biasanya ikan dipasarkan dulu, baru nelayan dibayar,” tambahnya.
Perbedaan mekanisme pembayaran tersebut membuat pemerintah daerah tidak bisa sepenuhnya mengendalikan arus distribusi ikan. Majid menegaskan, ruang intervensi pemerintah terbatas karena mekanisme pasar sudah berjalan dengan sendirinya.
“Kami tidak bisa ikut campur terlalu jauh. Yang bisa dilakukan hanya memantau produksi, mencatat harga, dan menyiapkan langkah antisipasi,” pungkasnya.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





