NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Kawasan Mangrove Tanjung Batu, di Kecamatan Pulau Derawan, akan kembali dibuka untuk umum pada momentum Lebaran 2026.
Setelah menjalani perbaikan sejak akhir 2023, pembukaan ini diharapkan menjadi alternatif destinasi bagi wisatawan yang menunggu penyeberangan menuju Pulau Derawan dan Pulau Maratua.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Syamsiah Nawir, mengatakan perbaikan kawasan mangrove telah dilakukan secara bertahap sepanjang 2024 hingga 2025 dengan total anggaran sekitar Rp 1,7 miliar.
“Insyaallah tahun ini sudah siap dikunjungi kembali,” ujar Syamsiah, Rabu (18/2/2026).
Sebelumnya, kawasan tersebut ditutup karena mengalami kerusakan cukup parah. Sejumlah bagian selasar kayu lapuk, material tidak lagi layak, serta kurangnya pemeliharaan mempercepat penurunan kualitas infrastruktur.
“Kalau sarana jarang dikunjungi dan tidak dipelihara, cepat rusak,” katanya.
Dalam perbaikan kali ini, material kayu yang digunakan diklaim memiliki kualitas lebih baik agar lebih tahan lama dan menekan biaya perawatan ke depan. Selasar kini memanjang hingga ke bibir laut, memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan langsung ke arah Pulau Panjang, Pulau Rabu-Rabu, dan Pulau Derawan.
Selain peningkatan infrastruktur, pemerintah daerah juga menyiapkan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sepanjang selasar. Pengunjung dapat menemukan berbagai produk olahan dan kerajinan khas setempat tanpa harus berdesakan di area dermaga.
“Perbedaan paling menonjol itu selasar pengunjung untuk UMKM,” ujarnya.
Fasilitas pendukung lain yang telah disiapkan antara lain toilet dan sejumlah titik swafoto hingga ke ujung lintasan. Ke depan, pengelola juga akan menambah gazebo sebagai tempat beristirahat.
Mangrove Tanjung Batu, juga dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Pengunjung akan mendapatkan penjelasan mengenai fungsi ekologis mangrove, pengelolaan kawasan, hingga pentingnya menjaga wilayah pesisir.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lahatku Janti Tanjung Batu, Narton Saragi, mengatakan pembukaan kembali kawasan ini menjadi momentum penting, terutama menjelang libur Lebaran.
“Kami sudah mempersiapkan untuk menyambut wisatawan, termasuk memantapkan pelaku UMKM,” ujarnya.
Menurut Narton, pihaknya telah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) bagi pengunjung, mulai dari alur masuk hingga tata tertib selama berada di kawasan. Tiket masuk dipatok sekitar Rp 5.000 sebagai biaya operasional pengelolaan.
Dengan adanya alternatif destinasi singgah, arus kunjungan diharapkan lebih tersebar sehingga kenyamanan wisatawan terjaga dan perputaran ekonomi lokal menjadi lebih merata.
“Semoga pembukaan awal ini menjadi momentum untuk meningkatkan kunjungan wisata kembali ke ekowisata ini,” pungkasnya.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





