NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Perajin lokal Kampung Panaan, Erni Ucunawati, mengembangkan inovasi batik dengan teknik pewarnaan yang tidak biasa.
Melalui produk yang diberi nama Batik ZKS, ia memadukan pewarna Remasol dengan campuran pupuk urea untuk menghasilkan warna yang lebih tajam dan menarik.
Teknik tersebut disebut memadukan proses batik tradisional dengan pendekatan kimia modern. Meski menggunakan pupuk urea dalam proses pewarnaan, produk batik ini dipastikan aman digunakan.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Samsiah, mengatakan teknik pembuatan batik tersebut telah melalui proses pengujian dan riset.
“Sudah kami pastikan ke pembuatnya. Alhamdulillah aman untuk kulit,” ucapnya, Senin (23/2/2026).
Selain itu, perajin juga disebut telah mengikuti pelatihan khusus terkait pembuatan batik dengan bahan pupuk urea tersebut.
Ia menambahkan Kampung Panaan disebut sebagai kampung pertama di Berau yang mengembangkan batik dengan bahan campuran pupuk urea.
Menurutnya, keunggulan Batik ZKS terletak pada hasil warnanya yang lebih kuat dan terlihat natural.
“Warnanya lebih muncul dan lebih menarik dibanding teknik biasa,” katanya.
Selain itu, batik diproduksi secara handmade oleh perajin lokal sehingga memiliki nilai eksklusif. Pihak Disbudpar juga telah mencoba langsung produk tersebut dan memastikan kenyamanan saat dipakai.
“Ada beberapa staf kami juga yang sudah mencoba menggunakan batik ini,” bebernya.
Saat ini, Batik ZKS mulai dikenal sebagai salah satu produk kreatif unggulan Kampung Panaan. Kehadirannya diharapkan dapat memperkaya kerajinan daerah sekaligus mendukung pengembangan ekonomi kreatif masyarakat setempat.
“Dipastikan aman dan tentunya ini menjadi sebuah keunikan sendiri bagi Berau, karena tidak banyak inovasi seperti ini,” tandasnya.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





