‎Program Kreatif Rutan Tanjung Redeb Dorong Kemandirian Warga Binaan Lewat Batik dan Kerajinan

Rabu, 26 November 2025

‎‎NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB — Kepala Rutan Kelas IIB Tanjung Redeb, Yudhi Khairuddin menegaskan pihaknya terus mengembangkan program pembinaan keterampilan bagi warga binaan.

‎‎Di ruang sederhana tersebut, warga binaan terlihat tekun mencanting malam panas di atas kain putih. Aktivitas ini menjadi bagian dari pembinaan berbasis kreativitas agar warga binaan memiliki peluang ekonomi setelah bebas.‎‎

Ia menyampaikan bahwa program membatik berawal dari identifikasi potensi seni dan keterampilan yang dimiliki warga binaan.‎‎

“Ketika pertama bertugas, saya melihat ada banyak kemampuan yang belum tersalurkan. Ada yang bisa melukis dan membuat kerajinan. Kami kemudian mencari potensi khas daerah yang bisa dikembangkan, dan ternyata Berau memiliki batik,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan pelatihan membatik bekerja sama dengan pengusaha batik asal Berau, Putri Maluang, yang menyediakan bahan baku sekaligus pendampingan teknis. ‎‎

“Seluruh proses dilakukan secara manual oleh warga binaan, mulai dari mencanting hingga pewarnaan dengan pewarna alami,” katanya.

‎‎Dari program tersebut, rutan membentuk galeri hasil karya warga binaan dengan nama GAHARU (Galeri Hasil Rutan). Logo dan identitas GAHARU telah dipatenkan sebagai bagian dari pengembangan produk.‎‎

Pada Juli 2025, batik Gaharu mampu tampil di ajang Indonesia Prison & Art Festival (IPPAFest) 2025, dan berhasil mencatat omzet penjualan tertinggi ketiga di antara peserta. Batik diproduksi secara terbatas untuk menjaga keunikan dan kualitas.

‎‎”Bukan hanya batikbwarga binaan juga mengembangkan berbagai produk kerajinan lainnya seperti tas rajut, dompet, aksesori, serta gantungan kunci berbentuk udang dari limbah plastik,” jelasnya. ‎‎

Rutan Tanjung Redeb saat ini juga menjajaki kerja sama dengan BRI agar setiap warga binaan memiliki rekening tabungan sendiri. ‎‎

“Kami ingin memastikan bahwa mereka memiliki tabungan dan jaminan ekonomi ketika kembali ke masyarakat. Tujuannya agar mereka tidak kembali ke kebiasaan negatif,” tambah Yudhi.‎‎

Ke depan, Kami berencana kembali mengikuti pameran produk hasil karya warga binaan. Dalam kesempatan tersebut, rutan akan menampilkan batik dan beragam kerajinan yang dikembangkan selama program pembinaan.

‎‎Yudhi berharap program kreatif seperti ini dapat semakin memperkuat proses reintegrasi sosial warga binaan.‎‎

“Kami ingin memberikan ruang agar mereka dapat tumbuh dan menemukan kembali tempatnya di masyarakat. Setiap karya mereka adalah bukti bahwa pembinaan dapat membuka harapan baru,” tutupnya.‎‎

Reporter : Akmal

Editor : Sarno

Bagikan