Ancaman Virus Nipah, Bandara Kalimarau Perketat Kewaspadaan Penumpang

Sabtu, 7 Februari 2026
Suasana ruang tunggu penumpang di Bandara Kalimarau, Berau, terlihat beraktivitas normal. (Istimewa)

NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Mobilitas manusia yang tinggi melalui jalur udara membuat bandara menjadi titik krusial dalam mencegah penyebaran penyakit menular. Menyikapi potensi ancaman Virus Nipah, pengelola Bandara Kalimarau mulai meningkatkan kewaspadaan meski status darurat dari pemerintah pusat belum diberlakukan.

Kasubag Tata Usaha dan Keuangan BLU UPBU Kalimarau, Yudhy Anggara, menyebut pihaknya telah menerima peringatan dari kantor pusat untuk ikut berperan aktif dalam upaya pencegahan. Meski kewenangan kesehatan berada di bawah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), penyelenggara bandara tetap diminta sigap dan tidak lengah.

“Ini memang kewenangan KKP, tapi kami sebagai stakeholder bandara harus punya awareness. Apalagi perpindahan orang lewat pesawat sangat cepat,” ujar Yudhy. Sabtu (7/2/2026) saat ditemui Bandara Kalimarau.

Virus Nipah diketahui menular dari hewan ke manusia dan berpotensi menyebar antar manusia. Karena itu, setiap indikasi penumpang sakit menjadi perhatian serius. Bandara Kalimarau telah menginstruksikan seluruh petugas agar lebih cermat dan segera berkoordinasi dengan KKP jika menemukan penumpang bergejala.

“Kalau ada indikasi, langsung kita arahkan ke Kantor Kesehatan Pelabuhan untuk dilakukan screening. Di bandara ini koordinasinya sudah jalan,” jelasnya.

Menurut Yudhy, sistem kewaspadaan ini tidak hanya diterapkan untuk Virus Nipah, tetapi juga untuk berbagai ancaman virus lainnya. Informasi dari KKP dan bandara lain di Indonesia secara rutin disampaikan melalui jalur komunikasi internal agar respons bisa dilakukan lebih cepat.

Meski demikian, hingga kini belum ada pengetatan khusus seperti pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau kewajiban penggunaan masker. Bandara Kalimarau masih berada pada fase observasi, sejalan dengan status nasional yang belum dinaikkan.

“Kita belum sampai ke tahap pengetatan. Masih observasi lapangan. Kalau status dari pusat naik, tentu pola penanganannya juga akan berubah,” katanya.

Yudhy menilai kehati-hatian dalam menetapkan status sangat penting agar tidak memicu kepanikan publik maupun gangguan sosial dan ekonomi. Terlebih Berau merupakan daerah tujuan wisata, dengan arus keluar masuk penumpang yang cukup tinggi.

Meski masih tahap pemantauan, kesiapan tetap dilakukan. Kantor Kesehatan Pelabuhan disebut sudah siaga penuh dengan tenaga medis, dokter, dan petugas administrasi yang bertugas setiap hari.

“KKP sudah standby. Kalau ada yang sakit atau terindikasi, langsung ditangani. Ini langkah antisipasi agar potensi penyebaran bisa dicegah sejak pintu masuk,” pungkasnya.

Reporter: Akmal I Editor: Sarno

Bagikan