NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau mulai mematangkan strategi agar daerahnya dapat memainkan peran kunci sebagai pintu masuk Geopark Sangkulirang Mangkalihat di Kalimantan Timur.
Kawasan karst berskala raksasa ini tidak hanya diarahkan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang pelestarian lingkungan, pembelajaran, serta penguatan ekonomi masyarakat lokal.
Geopark Sangkulirang Mangkalihat membentang di wilayah seluas kurang lebih 1,8 juta hektare yang meliputi Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Lanskapnya didominasi perbukitan kapur, jaringan gua dan sungai bawah tanah, serta situs prasejarah berupa lukisan dinding gua yang merekam aktivitas manusia purba sejak ribuan tahun silam.
Di wilayah Berau, potensi geopark ditopang oleh 15 geosite yang tersebar di 12 kecamatan. Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Asri Taldo, menyebut sebagian besar geosite tersebut telah lama dikenal publik dan dikelola bersama masyarakat.
“Yang menarik, banyak titik geosite kita bukan destinasi baru. Aktivitas wisatanya sudah berjalan, masyarakatnya sudah terbiasa mengelola, sehingga fondasinya relatif kuat,” ujar Asri, Senin (2/2/2026).
Sejumlah kawasan yang masuk dalam pengembangan geopark antara lain Gua Bloyot di Kampung Merabu, Air Panas Asin Pemapak di Biatan, serta kawasan pesisir Biduk-Biduk yang mencakup Labuan Cermin, Batu Sigending, dan Air Terjun Lingkacang. Pulau Maratua juga turut dimasukkan sebagai bagian dari jejaring geopark di Berau.
Tak berhenti pada aspek alam, pengembangan Geopark Sangkulirang Mangkalihat juga memadukan unsur sejarah dan budaya. Keraton Sambaliung dan Keraton Gunung Tabur, beserta museum yang dikelola di dalamnya, diposisikan sebagai simpul edukasi yang memperkaya narasi geopark.
“Geopark itu konsepnya lintas disiplin. Bukan cuma soal geologi, tapi juga cerita budaya dan sejarah yang hidup di sekitarnya,” katanya.
Untuk mempercepat proses pengusulan geopark, Pemerintah Kabupaten Berau telah membentuk Tim Teknis Geopark Sangkulirang Mangkalihat. Tim ini melibatkan unsur pembina, tenaga ahli, serta lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang berkaitan dengan pariwisata, kebudayaan, dan lingkungan.
Menurut Asri, pembentukan tim teknis menjadi langkah agar Berau tidak sekadar menunggu arah kebijakan dari pemerintah provinsi maupun pusat.
“Kami ingin memastikan Berau siap dari hulu ke hilir. Ketika tahapan penilaian meningkat, identitas Berau sebagai bagian penting geopark sudah terbentuk,” ujarnya.
Selain penguatan kelembagaan, Disbudpar Berau juga mulai membangun pengenalan publik terhadap geopark. Sejak tahun lalu, berbagai materi visual seperti banner dan papan informasi berlogo Geopark Sangkulirang Mangkalihat dipasang secara bertahap di titik-titik strategis.
Namun, Asri mengakui tantangan utama masih terletak pada pemahaman masyarakat mengenai konsep geopark dan geosite. Meski demikian, ia menilai kondisi Berau relatif diuntungkan karena hampir semua geosite telah lebih dulu dikenal sebagai objek wisata.
“Sekarang tugasnya menjembatani pemahaman. Kita kaitkan geopark dengan aktivitas wisata yang sudah ada, termasuk lewat promosi digital dan agenda-acara daerah,” ujarnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Berau menargetkan daerah ini dapat berperan sebagai gateway Geopark Sangkulirang Mangkalihat. Dengan dukungan bandara dan infrastruktur pariwisata yang lebih memadai, wisatawan diharapkan memulai kunjungan melalui Berau sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Kutai Timur.
“Kalau wisatawan masuk lewat Berau, mereka punya waktu tinggal lebih lama. Itu artinya perputaran ekonomi juga lebih terasa bagi masyarakat lokal,” tutupnya.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





