Disdik Berau Tegaskan Guru yang Langgar Etika Tak Akan Dilindungi

Rabu, 28 Januari 2026
Kepala Dinas Pendidikan Berau, Madiatul Idalisah

NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Berau, Mardiatul Idalisah, menegaskan setiap dugaan pelanggaran yang melibatkan tenaga pendidik tak akan ditolerir.

Ia menyatakan, tidak ada perlakuan khusus bagi guru yang dinilai melanggar etika profesi, terlebih jika tindakan tersebut mencederai kepercayaan publik.

Saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (28/1/2026), Mardiatul mengatakan bahwa laporan terkait perilaku guru belakangan ini semakin sering diterima, baik melalui jalur resmi maupun unggahan di media sosial. Sejumlah kasus yang mencuat, menurutnya, bahkan telah menempatkan profesi guru dalam sorotan tajam.

“Beberapa kejadian memang menyentuh ranah sensitif. Ada yang terkait konflik dengan murid, ada pula yang dilaporkan orang tua, sampai kasus guru merekam aktivitas murid di sekolah,” ujarnya.

Salah satu peristiwa tersebut, lanjut Mardiatul, terjadi di wilayah Berau dan kini telah ditindaklanjuti dengan meminta klarifikasi dari pihak sekolah terkait.

“Kami sudah memanggil dan meminta penjelasan untuk memastikan duduk perkaranya,” katanya.

Mardiatul menekankan, perlindungan institusi tidak akan diberikan kepada guru yang terbukti mengabaikan nilai-nilai profesionalisme. Namun, ia memastikan Dinas Pendidikan tetap berdiri di belakang pendidik yang bekerja sesuai dengan ketentuan.

“Kalau guru menjalankan tugasnya sesuai aturan, tentu kami tidak akan lepas tangan. Kami siap mendampingi,” tuturnya.

Ia menilai, kompleksitas persoalan di dunia pendidikan saat ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan karakter peserta didik. Karena itu, guru dituntut untuk memahami kondisi psikologis murid secara lebih mendalam agar proses pendidikan tidak berujung pada konflik.

“Anak-anak sekarang punya cara berpikir dan dunianya sendiri. Guru perlu masuk ke situ agar tidak mudah terjadi gesekan,” jelasnya.

Sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Berau, Mardiatul juga menyinggung upaya sekolah dalam membangun pendidikan karakter. Menurutnya, pembentukan sikap dan nilai sudah menjadi bagian dari aktivitas rutin sekolah, termasuk melalui pendekatan keagamaan.

“Upaya pendisiplinan tidak berdiri sendiri. Di sekolah, pembiasaan karakter dilakukan lewat berbagai kegiatan, seperti sholat duha dan pelaksanaan ibadah wajib lainnya,” sambungnya.

Selain itu, ia menyebut penerapan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat telah berjalan di sejumlah satuan pendidikan. Namun, Mardiatul mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan orang tua.

“Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan keluarga dan komunikasi yang terbuka menjadi kunci agar pendidikan karakter benar-benar berjalan,” pungkasnya.

Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno

Bagikan