NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau mulai mematangkan strategi promosi wisata selam di Pulau Maratua, khususnya untuk mengangkat fenomena kemunculanbarakuda di perairan kawasan pulau terluar tersebut.
Salah satu medium yang dipilih ialah ajang Deep and Extreme Indonesia (DXI), pameran tahunan yang mempertemukan pelaku industri selam, petualangan, dan wisata minat khusus.
Langkah itu sejalan dengan arahan Bupati Berau agar promosi pariwisata daerah dilakukan secara lebih terarah dan menyasar segmen pasar yang relevan. Alih-alih promosi massal, pemerintah daerah kini menimbang efektivitas medium promosi yang mampu langsung menjangkau komunitas penyelam dan pelaku industri wisata bahari.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengakui hingga kini belum ada kampanye promosi resmi yang secara khusus menonjolkan daya tarik barakuda di Maratua. Meski begitu, fenomena tersebut sejatinya sudah lama dikenal di kalangan penyelam.
“Kalau dari pemerintah daerah memang belum ada promosi yang spesifik. Namun di lapangan, dokumentasi dari pengelola resort dan para penyelam sudah cukup banyak,” ujar Samsiah, Jumat (23/1/2026).
Menurut dia, DXI dipandang sebagai kanal promosi yang paling relevan untuk memperkenalkan potensi wisata bawah laut Berau. Pameran ini secara rutin dihadiri komunitas penyelam, agen perjalanan selam, produsen perlengkapan diving, hingga pemerintah daerah yang mengembangkan wisata bahari.
“Pasarnya ada di situ semua. Komunitas diver, travel yang menjual paket selam, sampai daerah-daerah dengan potensi bawah laut berkumpul dalam satu forum,” katanya.
Pertimbangan lain adalah efisiensi anggaran. Di tengah keterbatasan dana promosi, Disbudpar Berau menilai keikutsertaan dalam DXI lebih efektif ketimbang melakukan promosi ke luar negeri secara terpisah.
“Dengan anggaran yang ada, kita tidak perlu keluar negeri. Di DXI, target pasar sudah berkumpul, termasuk wisatawan mancanegara,” ujar Samsiah.
Dalam praktiknya, promosi di DXI dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha. Disbudpar Berau menyiapkan fasilitas promosi seperti stan pameran, sementara materi dan narasi promosi diisi oleh pengelola resort serta agen perjalanan wisata selam.
“Harapannya bidang pemasaran juga bisa terlibat. Di sana tersedia panggung promosi, sehingga potensi yang kita miliki bisa disampaikan langsung ke audiens yang tepat,” ucapnya.
Di luar aspek promosi, kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi perhatian penting dalam pengembangan wisata selam Berau. Samsiah menyebut, kawasan Maratua saat ini memiliki sekitar 40 penyelam bersertifikasi rescue diver, yang dinilai cukup untuk menopang aktivitas wisata selam.
Di Derawan, terdapat sekitar 10 penyelam dengan sertifikasi dive master.
Berbeda halnya dengan Kecamatan Biduk-Biduk. Wilayah tersebut masih membutuhkan penguatan SDM, terutama setelah kewenangan sertifikasi penyelam dialihkan ke pemerintah provinsi.
“Untuk Maratua dan Derawan, alhamdulillah SDM-nya relatif aman. Biduk-Biduk masih menjadi tantangan,” katanya.
Padahal, kawasan Kaniungan Kecil dan Kaniungan Besar di Biduk-Biduk disebut memiliki potensi bawah laut yang tak kalah menarik dibanding Maratua maupun Derawan. Karena itu, pengembangan wilayah tersebut tetap masuk dalam agenda pemerintah daerah ke depan.
Samsiah menegaskan, promosi destinasi wisata selam tidak bisa dilepaskan dari kesiapan SDM. Aspek keselamatan dan kualitas layanan menjadi prasyarat sebelum potensi wisata dipasarkan secara luas.
“Prinsipnya, sebelum dijual, SDM-nya harus siap. Jangan sampai potensi sudah dipromosikan, tapi dukungan manusianya belum memadai,” terangnya.
Dengan strategi promosi yang lebih terfokus serta penguatan kapasitas SDM, Disbudpar Berau berharap fenomena barakuda di Maratua dapat berkembang menjadi daya tarik unggulan baru, sekaligus memperkuat posisi Berau sebagai destinasi wisata bahari di kawasan utara Kalimantan Timur.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





