NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Pembukaan rute penerbangan Kalimarau–Maratua oleh Wings Air dinilai sebagai langkah awal yang penting dalam memperkuat akses menuju salah satu destinasi unggulan Kalimantan Timur.
Namun, keberlanjutan rute tersebut masih sangat bergantung pada peran aktif pemerintah daerah dalam menjaga ritme penerbangan sekaligus mendorong peningkatan jumlah penumpang.
Kepala Otoritas Bandara Wilayah VII, Ferdinand Nurdin, menekankan bahwa pemerintah kabupaten maupun provinsi memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan rute baru ini tidak berhenti di tengah jalan.
“Salah satu caranya adalah dengan mengintensifkan promosi wisata Maratua yang selama ini dikenal memiliki daya tarik kelas internasional,” ucapnya, Rabu (21/1/2026).
Menurut Ferdinand, potensi Maratua belum sepenuhnya tergarap optimal. Padahal, kawasan tersebut memiliki peluang besar untuk menarik wisatawan domestik hingga mancanegara, asalkan didukung sistem perjalanan yang lebih terintegrasi.
Ia mengusulkan skema kerja sama antara maskapai penerbangan, pengelola hotel atau resort, serta agen perjalanan. Melalui paket perjalanan terpadu atau bundling, wisatawan dapat menikmati kemudahan akses sekaligus kepastian layanan sejak keberangkatan hingga tiba di destinasi.
Skema tersebut, kata Ferdinand, juga berpeluang mengurangi berbagai persoalan yang kerap dialami wisatawan, terutama turis asing.
“Selama ini, perjalanan menuju Maratua sering kali melibatkan banyak moda transportasi dan maskapai berbeda, sehingga rawan gangguan ketika terjadi keterlambatan penerbangan di salah satu titik,” jelasnya.
Peran pemerintah daerah menjadi krusial dalam mengoordinasikan para pelaku usaha pariwisata, mulai dari pemilik hotel dan resort hingga agen perjalanan di Berau dan Kalimantan Timur. Jika kesepakatan lintas sektor dapat terbangun, dampaknya diyakini akan signifikan, tidak hanya bagi sektor pariwisata Berau, tetapi juga bagi perekonomian Kalimantan Timur secara keseluruhan.
Ferdinand juga menyoroti penetapan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai momentum emas bagi Berau. Dengan status IKN sebagai pusat politik baru, mobilitas penduduk dari Jakarta dan daerah lain diperkirakan meningkat drastis dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam konteks tersebut, Berau disebut sebagai satu-satunya daerah di Kalimantan Timur yang memiliki destinasi wisata berkelas internasional dengan tingkat kunjungan yang sudah terbentuk. Lonjakan populasi dan arus kunjungan ke IKN dinilai dapat menjadi peluang besar jika direspons dengan kesiapan infrastruktur dan layanan pariwisata yang matang.
“Pilihan kita hanya dua: memanfaatkan peluang ini melalui kolaborasi, atau membiarkannya lewat begitu saja,” tegasnya.
Ferdinand menilai, ketika IKN mulai ramai, Berau berpotensi menjadi tujuan pelesiran utama, asalkan mampu menawarkan akses yang mudah dan pengalaman wisata yang nyaman.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





