NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau memiliki potensi gempa bumi seiring keberadaan sejumlah jalur sesar aktif yang melintasi wilayah tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau mencatat setidaknya ada dua sesar utama yang menjadi sumber potensi kegempaan, yakni Sesar Mangkalihat dan Sesar Sangkulirang.
Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, menjelaskan bahwa selain dua sesar tersebut, aktivitas gempa di Berau juga dipengaruhi oleh dinamika tektonik di wilayah timur, khususnya zona pertemuan lempeng di sekitar perairan Maratua.
“Yang jelas di Berau ada Sesar Mangkalihat dan Sesar Sangkulirang. Selain itu, ada juga pengaruh pertemuan Filipina dengan Sulawesi di timur Maratua. Itu daerah-daerah itu memang yang perlu kita sadari ada kemungkinan potensi jadinya gempa,” ujar Ade, Senin (19/1/2026).
BMKG mencatat, wilayah pesisir Berau menjadi kawasan yang paling sering mengalami aktivitas kegempaan. Rentang wilayah rawan tersebut membentang dari Kecamatan Biduk-Biduk hingga kawasan Muara Berau. Meski demikian, sebagian besar gempa yang terjadi berkekuatan kecil.
“Di pesisir itu, dari Biduk-Biduk sampai Muara Berau, memang sering terjadi gempa. Tapi memang sebagian besar berkekuatan kecil dan tidak selalu dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Tak hanya di kawasan pesisir, aktivitas gempa juga tercatat terjadi di wilayah pedalaman Berau, khususnya di Kecamatan Kelay. Selain itu, BMKG mendeteksi sejumlah gempa yang berpusat di sekitar muara sungai dan wilayah perairan laut. Namun, dampaknya sejauh ini dinilai relatif kecil dan tidak menimbulkan kerusakan berarti.
Meski memiliki beberapa sumber potensi kegempaan, Ade menegaskan bahwa Kabupaten Berau tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai daerah rawan gempa. Menurutnya, yang perlu ditekankan adalah pemahaman masyarakat terhadap potensi tersebut, bukan kepanikan.
“Sebenarnya bukan rawan gempa, tetapi ada potensi gempa. Artinya, tetap perlu kewaspadaan karena ada tiga sesar itu,” terangnya.
Untuk mendukung pemantauan aktivitas seismik, BMKG Berau telah memasang tiga alat pencatat gempa atau seismograf yang tersebar di Teluk Bayur, Maratua, dan Biduk-Biduk. Keberadaan alat tersebut dinilai cukup untuk memantau aktivitas kegempaan di wilayah kabupaten.
“Dengan tiga alat seismograf ini, saya kira pemantauan gempa di Berau sudah cukup untuk satu kabupaten. Data bisa dipantau secara real time dan disampaikan secara akurat kepada masyarakat,” sambungnya.
BMKG, lanjut Ade, secara rutin mencatat dan menyampaikan setiap kejadian gempa, termasuk gempa bermagnitudo kecil yang kerap terjadi di Berau. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
“Sekecil apa pun gempanya, tetap kami informasikan. Ini bagian dari upaya mitigasi dan edukasi agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana,” pungkasnya.
Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno





