Penyakit Menular Kerap Terdeteksi, PMI Berau Perketat Keamanan Transfusi Darah

Rabu, 14 Januari 2026
Kantor PMI Berau siap sedia terima transfusi darah pendonor, perketat keamanan demi menghindari penyakit menular.

NUSANTARAKALTIM, TANJUNG REDEB – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Berau kerap menemukan darah pendonor yang tidak dapat digunakan lantaran terindikasi mengandung penyakit menular. Temuan tersebut biasanya diketahui setelah sampel darah menjalani pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari prosedur standar keamanan transfusi.

Pemeriksaan itu memungkinkan petugas mendeteksi beragam penyakit menular yang berpotensi membahayakan penerima darah. Namun, untuk memastikan jenis penyakit dan kondisi kesehatan pendonor secara menyeluruh, PMI tidak bekerja sendiri. Peran dokter menjadi kunci dalam tahapan lanjutan penanganan kasus tersebut.

Petugas Unit Donor Darah (UDD) PMI Berau, Anggi, menjelaskan bahwa darah yang menunjukkan hasil reaktif secara otomatis tidak akan disalurkan kepada pasien. Menurutnya, prosedur ini dilakukan untuk menjaga keselamatan penerima donor darah.

“Begitu hasil uji laboratorium menunjukkan indikasi penyakit menular, darah itu langsung kami tarik dari peredaran. Tidak ada kompromi karena ini menyangkut keselamatan orang lain,” kata Anggi saat ditemui pada Jumat (9/1/2026) lalu.

Ia menyebutkan, beberapa penyakit yang kerap terdeteksi antara lain HIV, sifilis, serta hepatitis B dan C. Meski demikian, PMI tidak serta-merta menyampaikan diagnosis kepada pendonor. Langkah tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan tenaga medis.

Anggi menegaskan, PMI hanya berperan sebagai fasilitator awal. Pendonor dengan hasil pemeriksaan yang mencurigakan akan diarahkan untuk berkomunikasi langsung dengan dokter.

“Kami tidak dalam posisi memberi label atau kesimpulan kepada pendonor. Dokter yang kemudian menghubungi secara pribadi dan menyarankan pemeriksaan lanjutan di laboratorium lain, termasuk fasilitas kesehatan swasta,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2025, PMI Berau mencatat cukup banyak kasus serupa. Anggi mengungkapkan bahwa sebagian besar pendonor yang terdeteksi berasal dari masyarakat umum dan kalangan pekerja perusahaan. Namun, pihaknya tidak pernah mengaitkan temuan tersebut dengan latar belakang profesi tertentu.

“Siapa pun bisa datang mendonor dan siapa pun juga bisa terdeteksi. Kami tidak masuk ke ranah pekerjaan atau aktivitas pribadi mereka,” tutupnya.

Reporter: Marta Tongsay | Editor: Sarno

Bagikan