JAKARTA – Persaingan untuk mendapatkan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) tahun ini berlangsung super ketat. Sebanyak 4.455 orang tercatat memperebutkan hanya 230 kuota yang tersedia untuk jenjang S2 dan S3 dalam negeri.
Tingginya angka pendaftar ini menunjukkan betapa besarnya animo masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana. Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kemenag, Ruchman Basori, membenarkan tingkat persaingan yang sangat tinggi tersebut.
“Sementara kuota yang akan diambil terbatas, sehingga sangat kompetitif,” terang Ruchman saat memantau tes wawancara di Ciputat, pada Selasa (22/7/2025).
Seleksi beasiswa ini memang berjalan berlapis. Dari total 4.455 pendaftar S2 dan S3, hanya 1.010 orang yang berhasil lolos hingga tahap wawancara yang saat ini sedang berlangsung. Artinya, lebih dari 75 persen pendaftar telah gugur di tahap seleksi administrasi dan akademik.
Menurut Ruchman, tingginya animo ini menjadi bukti bahwa program beasiswa sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama karena biaya studi pascasarjana yang masih dianggap mahal.
“Studi S2 apalagi S3 masih dianggap berbiaya mahal, karenanya kehadiran pemerintah sangat penting untuk menjamin kelancaran studi,” katanya.
Mengingat ketatnya persaingan, Ruchman berpesan agar para kandidat mempersiapkan diri secara maksimal. Ia pun menaruh harapan agar di masa depan, kuota penerima beasiswa dapat ditambah seiring dengan alokasi anggaran pendidikan nasional.
“Jika LPDP tahun depan menambah anggaran, tentu akan bertambah pula jumlah awardee kita, yang akan studi pada S2 dan S3 di Perguruan Tinggi Terbaik di Dalam Negeri,” katanya.





